Mencari Arti

Memuat...

Selasa, 15 Desember 2009

"HADITS KONTROVERSI TENTANG SUMUR BUDHO'AH"


BAB I
PENDAHULUAN
HADITS KONTROVERSIAL

Segala puji bagi Allah rabbul ‘izzati sang Penguasa langit dan Bumi, Air dan Tanah, Api dan Udara serta segala sesuatau yang ada selain daripada-Nya. Shalawat dan salam teriring do’a senantiasa tercurahkan keharibaan Muhammad SAW yang telah memperjuangkan Islam hingga berjaya di akhir zaman.

Air adalah sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Dalam kehidupan ini manusia secara khusus adalah makhluk yang yang sangat membutuhkan air utamanya air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mulai dari mandi, mencuci, makan dan minum.
                                              
Dalam Islam air merupakan sumber kebersihan bagi setiap muslim, maka dari itu para fuqaha' (ahli fiqhi) menjadikan pembahasan tentang air sebagai bab paling pertama dalam setiap mengawali penjelasan mereka tentang fikih. Hal ini dapat terlihat bagaimana para fuqaha' menempatkan pembahasan tentang air pada bab pertama sebagai landasan dalam kitab thahara (bersuci).

Sebagai sebuah tesis bahwa air adalah alat utama untuk mengangkat hadas baik kecil maupun besar dan membersihkan najis yang terdapat pada badan, oleh karena itu para fuqaha' memberikan syarat bahwa air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah air yang tidak berubah salah satu dari sifat utamanya yaitu dari warnanya, baunya, dan rasanya, jadi apabila salah satu dari ke tiga sifat ini berubah, maka para ulama menganggapnya sebagai air yang ti suci dan tidak mensucikan.

Berdasarkan pemahaman di atas kita dapat mengetahui bahwa air yang dapat digunakan dalam bersuci adalah air yang suci pula dan air yang tidak dapat digunakan utuk bersuci adalah air yang tidak memenuhi syarat-syarat kesucian seperti berubahnya salah satu dari tiga sifat utamanya, tercampurnya dengan benda najis kalau air yang tertcampur tersebut sedikit dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat melakukan penelitian tentang air ditinjau dari hadis-hadis Rasulullah Saw yang berhubungan dengan kesucian air dilihat dari segi jumlahnya dengan merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Hadis-hadis tentang air yang suci dilihat dari banyak dan sedikitnya
2. Analisis matan hadis tentang kesucian air ditinjau dari kadarnya
3. Penjelasan tentang hukum kesucian air berdasarkan hadis ditinjau dari kadar air.

Makalah ini diyujukan sebagai pemenuhan tugas pengganti UTS pada mata kuliah ‘Ulumul Hadits yang diampu olh Bapak Mahdi, M.Ag. Semoga makalah ini bias diterima srta bermanfaat bagi kita semua. Amin. Semoga.


BAB II
PEMBAHASAN
HADITS HADITS TENTANG AIR

A.  Hadis-hadis Tentang Kesucian Air Berdasarkan Kadar atau Jumlahnya
Terdapat dua hadis dari Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang kesucian air ditinjau dari kadar atau jumlahnya. KeDua hadis tersebut adalah sebagai berikut;
1. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dan Tirmidzi, dari riwayat Abu Said al-Khudry dari Rasulullah Saw






Artinya: Dari Abu Said al-Kudry: Rasulullah Saw bersabda : "Sesungguhnya air itu suci dan mensucikan dan tidak dapat terkena oleh najis apapun"

2. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dari riwayat Abdullah bin Umar dari Rasulullah Saw :






Artinya: Dari Ibnu Umar beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Apabila kadar air itu mencapai dua kullah, maka air tersebut tidak akan tercemari oleh najis (suci dan mensucikan)"
Sebelum penulis lebih jauh menjelaskan tentang kandungan matan kedua hadis di atas yang mengandung kontroversi dilihat dari segi lafadznya, terlebih dahulu penulis menjelaskan tentang takhrij dari kedua hadis tersebut berdasarkan asal pengambilannya dari kitab-kitab hadis.

a. Takhrij hadis
Hadis ini diriwayat oleh Abu Daud dalam Sunannya Kitab Thaharah Bab Tentang Sumur Bidha'ah No hadis: 66, Imam Abu Daud berkata ; akau diberitahukan oleh Muhammad bin al-Ala' dan al-Hasan bin Ali serta Muhammad bin Sulaiman al-Anbary mereka berkata; kami diberitahukan oleh Abu Usamah dari al-Walin bin Katsir dari Muhammad bin Ka'ab dari Abdullah bin Rafi' bin Khadij, dari Abu Sa'id al-Khudry; bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw : Apakah kami boleh berwudhu dari air sumur Bidha'ah (yaitu sumur tempat dimana kain bekas haidh, daging anjing, dan barang-barang yang telah membusuk), kemudian Raulullah Saw bersabda : "Air itu Suci dan mensucikan serta tidak dicemari oleh najis apapun".

Selain itu Imam Abu Daud juga meriwayatkan hadis yang sama dari jalan Ahmad bin Abu Sy'aib dan Abdul Aziz bin Yahya yang keduanya berasalah dari Harani keduanya berkata; kami diberitahukan oleh Muhammad bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Salith bin Ayyub, dari Ubaidillah bin Abdurrahman bin Rafi' al-Anshary dari Abu Said al-Khudry. Dengan nomor hadis 67.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam al-Jami'u al-Shahih (Sunan at-Tirmidzi) Kitab Thaharah, Bab tentang air yang tidak dicemari oleh najis apapun nomor hadis 66, dari jalan Hannad dan al-Hasan bin Ali al-Khallal mereka berkata ; kami diberitahukan oleh Abu Usamah, dari al-Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ka'ab, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Rafi' bin Khudaij dari Abu said al-Khudry dengan lafadz yang sama pada jalan pertama milik Abu daud. Imam at-Tirmidzi berkata; "Hadis ini hasan, dan Abu Usamah meriwayatkan hadis ini dengan baik dan tidak seorang perawi pun yang meriwayatkan hadis tentang sumur Bidha'ah lebih baik dari riwayat Abu Usmah. Dan hadis ini diriwaytkan pula dari jalan yang lain dari Abu Said al-Khudry. Dan pada bab yang sama diriwatkan pula hadis dari Ibnu Abbas dan Aisyah"

b. Takhrij hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya Kitab Thaharah Bab Tentang Air Yang Tidak Bernajis nomor hadis 63, 64. dari jalan Muhammad bin al-Ala' dan Usman bin Abi Syaibah dan al-Hasan bin Ali dan selainnya mereka berkata; kami diberitahukan oleh Abu Usmah dari al-Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja'far bin Al-Zubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya (Abdullah bin Umar) beluai berkata; Rasulullah Saw pernah ditanya tentang air yang pernah disentuh oleh bintang buas dan bertaring, Rasulullah Saw berkata : "Apabila kadar air itu mencapai dua kullah maka air tersebut tidak membawa najis". Dan beliau juga meriwayatkan hadis dengan lafadz yang sama dari jalan Musa bin Ismail, bahwa Hammad memberitahukan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja'far dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya, demikian juga dari jalan Abu Kamil berkata bahwa Yazib bin Zurai' memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja'far dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya dengan lafadz yang sama. Dalam sanad yang lain Abu Daud juga meriwayatkan dari jalan Musa bin Ismail ia berkata; bahwa Hammad telah memberitahukan kepada kami dan berkata; bahwa Ashim bin al-Munzir memberitakan kepada kami dari Ubadillah bin Abdullah bin Umar dia berkata; ayahku memberitahukan kepadaku bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : "Apabila kadar air mencapai dua kullah, maka air itu tidak najis". Nomor hadis 65.

Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzy dalam Sunannya Kitab Thaharah Bab Tentang Air Yang Tidak Dicemari Oleh Najis nomor hadis 67 dari jalan Hannad dia berkata; kami dibertahukan oleh Abdah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja'far bin Al-Zubair, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar, dari Ibnu Umar beliau berkata; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda ketika beliau ditanya tentang air yang berada di daratan luas dan tersentuh oleh binatang bertaring dan buas: lalu beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Apabila kadar Air mencapai dua kullah, maka air itu tidak menyertakan najis".

Diriwayatkan pula oleh an-Nasa'i dalam Sunannya Kitab Thaharah Bab Meninggalkan Pemberian Masa Terhadap Air nomor hadis: 52 dari jalan yang sama dengan jalan riwayat yang terdapat dalam Sunan Abu Daud dan at-Tirmidzy. Dan Bab Larangan Mandi Junub Pada Air yang Tenang dari jalur yang sama.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Thahaharah dan Sunah-sunnahnya Bab Kadar Air Yang Tidak Bernajis, dari dua jalan :
a). Pada hadis nomor 517 Ibnu Majah meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin Khallad al-Bahily, dia berkata; Yazid bin Harun berkata kepada kami bahwa ; Muhammad bin Ishaq memeritahukan kepada kami, dari Muhammad bin Ja'far al-Zubair, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya (Ibnu Umar)... dengan lafadz yang sama dengan riwayat pertama dari Abu daud dan riwayat at-Tirmidzy.
b). Pada hadis no 518 Ibnu majah meriwayatkan dari jalan Ali bin Muhammad, dia berkata; Abdullah bin al-Mubarak berkata kepada kami, bahwa Waqi' berkata kepada kami, bahwa Hammad bin Maslamah berkata kepada kami, dari Ashim bin al-Mundzir, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar dari Ayahnya (Ibnu Umar) beliau berkata; Rasulullah Saw bersabda: "Apabila kadar air mencapai dua atau tiga kullah, maka air tersebut tidak bernajis".

B.   Analisis Matan Hadis
Jika kita melihat dengan teliti lafaz dari dua hadis di atas, maka kita akan mendapatkan terjadinya kontroversi sebab pada hadis pertama Rasulullah Saw menjelaskan bahwa air itu suci dan mensucikan serta tidak dapat tercemari oleh najis apapun tanpa memberikan kadar tertentu. Sementara pada hadis kedua Rasulullah Saw menjelaskan bahwa air yang memiliki kadar dua kullah, maka air tersebut tidak membawa najis atau tidak akan tercemari oleh najis.

Dari kedua hadis tersebut sangat tampak wilayah kotroversi dari segi matan dimana lafaz hadis pertama datang dalam bentuk lafadz yang mutlak lagi umum yang berkonotasi makna bahwa seluruh air tidak mengandung najis berapapun kadar dan jumlahnya, lalu pada hadis kedua dtang dalam bentuk lafadz yang muqayyad dengan kadar yaitu kalimat "Kullatain" (dua Kullah) yang berkonotasi makna bahwa air yang mencapai dua kullah atau lebih, maka satatus air tersebut tidak bernajis dan suci lagi mensucikan. Adapun air yang tidak mencapai kadar dua kullah atau lebih, maka status hukum tersebut dapat dicemari oleh najis bahkan tidak suci dan tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Selian itu jika kita meneliti hadis pertama dari aspek asbab al-wurud-nya (sebab munculnya), maka kita akan mendapatkannya sebagaimana riwayat Abu Said al-Khudri beliau berkata: "Aku pernah perjumpa dengan Nabi Saw yang sedang berwudhu di pinggir telaga (sumur) Bidha'ah. Lalu aku bertanya : Wahai Rasulullah, apakah engkau berwudhu dengan air telaga (sumur) Bidha'ah yang digunakan orang untuk membuang sobekan pembersih darah haid, airnya berbau, dan di dalamnya terdapat bangkai serigala? Maka beliau Saw menjawab: "Sesungguhnya air itu suci, tidaklah sesuatu apau menajuiskannya" .

Sementara pada hadis kedua jika ditinjau dari aspek asbabu al-wurudnya, maka akan ditemukan bahwasanya sahabat menanyakan tentang hukum air yang terdapat pada alam bebas, maka Rasulullah menjawab: "Apabila kadar air itu mencapai dua kullah, maka air itu tidak bernajis" dalam riwayat lain dari Ibnu Majah ; "Apabila kadar air itu mencapai dua atau tiga kullah...".

Imam Ibnu Qutaibah menjelaskan dalam Ta'wil Mukhtalaf al-Hadis tentang kedua hadis yang tampaknya kontroversial ini dengan mengatakan : "Kalian meriwayatkan Dari Nabi Saw, bahwasanya beliau bersabda : "Air itu tidak dapat dicemari oleh najis apapun" . kemudian kalian meriwayatkan dari beliau Saw bahwasanya beliau bersabda : "apabila air itu mencapai dua kullah, maka air tersebut tidak akan tercemari oleh najis" . hadis yang kedua ini menunjukkan bahwa air yang tidak mencapai kadar dua kullah, maka akan tercemari oleh najis. Hal ini mengindikasikan bahwa hadis kedua berbeda dengan hadis pertama. Ibnu Qutaibah berkata : Menurut kemi sesungguhnya hadis yang kedua ini tidak berbeda dengan hadis yang pertama".

Kemudian Ibnu Qutaibah berkata : "Rasulullah Saw bersabda : "Air itu tidak dapat dicemari oleh najis apapun" menurut hukum mayoritas, karena mayoritas air yang terdapat dalam sumur, telaga dan kolam kadarnya sangat banyak, maka lafaz ini keluar dari lafaz khususnya. Kemudian beliau Saw menjelaskan kepada kita tentang kadar dua kullah atau lebih yang merupakan kadar terendah dari jumlah air yang tidak dapat dicemari oleh najis apapun".

Berdasarkan penjelasan Ibnu Qutaibah di atas, maka dapat ditemukan bahwa hadis pertama merupakan hadis yang menjelaskan tentang sifat air mayoritas yang terdapat dalam sumur atau kolam dimana air yang terdapat dalam kedua tempat tersebut kadarnya melebihi dua kullah. Sehingga hadis pertama adalah hadis yang umum dan bersifat mutlaq sementara hadis kedua adalah hadis muqayyad yang mentakhshish hadis pertama.

Dalam penjelasan ini Ibnu Qutaibah menggunakan jalan at-Taufiq baina al-Hadisaini al-Muta'aridhataini fi al-Dhahir (penggabungan antara kedua hadis yang tampak kontroversial). Demikian juga dengan pendapat Imam al-Syafi'i dalam Ikhtilaf al-Hadis.

C.   Penjelasan Tentang Hukum Kesucian Air Berdasarkan Kadarnya Ditinjau dari Pendapat Para Fuqaha
Para fuqaha telah sepakat bahwa air yang telah tercemari oleh najis dan merubah salah dari tiga sifat dasar air yaitu ; rasa, warna, dan baunya tidak suci dan tidak lagi dapat dipergunakan untuk bersuci Imam Ibnu al-Munzir mengatakan: "Para ulama telah sepakat bahwa air yang sedikit maupun banyak, apabila telah tercemari oleh sesuatu yang najis dan merubah rasa, warna, atau baunya, maka air tersebut najis selama keadaannya belum berubah". berdasarkan hadis Rasulullah Saw:





Artinya :
Dari Abu Umamah al-Bahily, dari Nabi Saw bahwasanya beliau berkata: "Air tidak ber najis dengan najis apapun kecuali berubah bau, rasa, dan warnanya" (H.R Ibnu Majah).

Diantara para ulama ada yang berpendapat bahwasanya air yang kadarnya sedikit, maka air tersebut najis, dan apabila kdar air tersebut banyak, maka air tersebut tidak najis. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kadar banyak dan sedikitnya air sebagai berikut :

a. Al-Hanifiyah berpendapat: Air dapat dikatakan banyak apabila seorang manusia menggerakkan ujung tempat air tersebut dan gerakan air tidak dapat mencapai tempat atau ujung kedua dari tempat air tersebut. Sebaliknya jika ujung air tersebut digerakkan, maka gerakan air tersebut akan menggapai ujung kedua dari tempat air. Mereka menentukan bahwa kadar air yang sedikit kurang dari sepulu hasta orang dewasa. Berdasarkan hadis Abu Said al-Khudri tentang air yang terdapat dalam sumur atau telaga Bidha'ah.

b. Adapun Al-Malikiyah tidak menentukan takaran tertentu terhadap air akan tetapi mereka berpendapat bahwasanya najis dapat merusak keadaan air yang sedikit sekalipun tidak merubah salah satu dari dasarnya, hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Malik. Dalam riwayat Imam Malik yang lain bahwasanya air yang sedikit ini hukumnya menjadi makruh. Dari Imam Malik tentang hukum air yang sedikit dan terkena setidaknya terdapat tiga pendapat : 1). Bahwasanya air tersebut menjadi rusak dan tidak dapat digunakan untuk bersuci, 2). Bahwasanya air tersebut tidak bernajis selama tidak berubah salah satu dari sifat dasarnya, 3). Bahwasanya air yang sedikit dan terkena oleh najis ringan, maka hukumnya adalah makruh. Berdasarkan hadis tentang tata cara mengangkat najis dari tempat yang telah dijilat oleh anjing dan hadis tentang cara mensucikan masjid dari bekas kencing orang Arab badui.

c. Al-Syafiyah dan al-Hanabilah keduanya sepakat untuk memberikan batasan kadar terhadap sedikit banyaknya air, mereka berpendapat bahwa kadar air yang tidak dapat tercemari oleh najis adalah dua kullah, al-Syafi'yyah berpendapat bahwa apabila kadar air kurang dari dua kullah maka air tersebut najis, dan apabila air tersebut mencapai dua kullah atau lebih maka hukum air tersebut tetap suci dan mensucikan berdasarkan hadis Ibnu Umar di atas. Yang dimaksud dengan dua kullah adalah 500 liter menurut ukuran orang Irak.

Dari ketiga pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan berdasrkan pemahaman terhadap hadis bahwasanya hadis tentang sumur atau telaga Bidha'ah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri dari Nabi Saw beliau bersabda: "Bahwasanya air itu tidak bernajis karena sesuatu apapun", dengan hadis sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dimana Rasulullah bersabda: "Apabila air itu mencapai kadar dua kullah, maka air itu tidak bernajis" bukanlah hadis kontroversial, melainkan berada pada wilayah umum dan khusus, serta wilayah mutlak dan muqayyad. Jadi hadis pertama bersifat umum dan mutlak sementara hadis tentang kadar air yang dua kullah bersifat khusus dan muqayyad dan kaidah menujjukkan "hamlu al-Mutlak 'ala al-Muqayyad". Wallahu a'lam.





















BAB III
KESIMPULAN
Setelah dilakukan kajian, analisis dan pembahasan atas permasalahan yang telah dirumuskan, maka kesimpulan yang dapat penulis ambil adalah sebagai berikut :

Terdapat dua hadis yang tampak kotroversi tentang jumlah atau kadar air yang dapat terhindar dari najis atau tidak dapat tercemari oleh najis yaitu;
a. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dan Tirmidzi, dari riwayat Abu Said al-Khudry dari Rasulullah Saw
Artinya: Dari Abu Said al-Kudry: Rasulullah Saw bersabda : "Sesungguhnya air itu suci dan mensucikan dan tidak dapat terkena oleh najis apapun"

b. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dari riwayat Abdullah bin Umar dari Rasulullah Saw :
Artinya: Dari Ibnu Umar beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Apabila kadar air itu mencapai dua kullah, maka air tersebut tidak akan tercemari oleh najis (suci dan mensucikan)"

Hadis pertama merupakan hadis yang menjelaskan tentang sifat air mayoritas yang terdapat dalam sumur atau kolam dimana air yang terdapat dalam kedua tempat tersebut kadarnya melebihi dua kullah. Sehingga hadis pertama adalah hadis yang umum dan bersifat mutlaq sementara hadis kedua adalah hadis muqayyad yang mentakhshish hadis pertama.

Para fuqaha telah sepakat bahwa air yang telah tercemari oleh najis dan merubah salah dari tiga sifat dasar air yaitu ; rasa, warna, dan baunya tidak suci dan tidak lagi dapat dipergunakan untuk bersuci, namun mereka berbeda pendapat tentang banyak dan sedikitnya kadar dalam tiga pendapat, dari ketiga pendapat tersebut penulis menyimpulkan bahwa hadis pertama bersifat umum dan mutlak sementara hadis tentang kadar air yang dua kullah bersifat khusus dan muqayyad dan kaidah menujjukkan "hamlu al-Mutlak 'ala al-Muqayyad".










DAFTAR PUSTAKA
¥     Sulaiman bin al-Asy'ats as-Sijistany al-Azdy, Sunan Abu Daud, (Cet. I; Bandung: Maktabatu Dahlan, T.Th), Jilid. I
¥     Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah al-Tirmidzi, al-Jami'u al-Shahih al-Ma'ruf bi Sunan al-Tirmidzy, (Cet.II; Semarang: PT. Toha Putra, T.Th), Jilid. 1
¥     Abu Abdurrahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan an-Nasai, Sunan an-Nasa'i (al-Mujtaba'), (Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/ 1995M), Jilid. 1
¥     Abu Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Cet. I; Semarang: PT. Toha Putra, T.Th), Jilid. 1.
¥     Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi al-Dimasyqi, Asbabul Wurud, diterjemahkan oleh H.M Suawarta Wijaya, BA dan Drs. Zafrullah Salim dengan judul, Asbabul Wurud; Latar Belakang Historis Timbulnya Hadis-Hadis Rasul, (Cet. VI; Jakarta: Kalam Mulia, 2006), Jilid. 2
¥     Abdullah bin Ahmad bin Qudama al-Maqdisi Abu Abdullah, al-Mughni, (Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, 1405 H), Jilid. 1.
¥     Ali bin Abu Bakar bin Abdul Jalil al-Margayani, Bidayatu al-Mubatdi, (Cet. I; al-Qahirah: Matba'ah Muhammad Ali Shubayyih, 1355 H).
¥     Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Bulugu al-Maram min Jam'i Adillati al-Ahkam. Cet. I; al-Qahirah: Dar al-Hadis, 2003.
¥     Muhammad bin Ismail al-Kahlani al-San'ani, Subulu al-Salam Syarhu Bulug al-Maram. Cet. I; Bandung: Maktabah Dahlan, T.Th. Jilid. 1.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar