Mencari Arti

Memuat...

Senin, 15 Maret 2010

Pendidikan Islam dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia

“PENDIDIKAN ISLAM DAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA
-Upaya pembentukan Sumber daya Manusia Islami Yang Siap Mengabdi DiMasyarakat dengan Fokus Institusi Pendidikan Tinggi Islam Di Indonesia-


PENDAHULUAN
Pendidikan dalam Islam merupakan pokok utama dalam kelanjutan ketahuidan dan keimanan terhadap ajarannya. Perkembangan pendidikan Islam sejalan dengan berkembangnya Islam itu sendiri, bahkan pendidikan Islam sebenarnya telah dimulai sejak zaman nabi-nabi terdahulu dan disempurnakan oleh nabi Muhammad SAW di Makkah dan Madinah. Proses transformasi ilmu secara bilateral telah terjadi setelah perang Badar yaitu dengan pengajaran membaca dan menulis kepada umat Islam sebanyak sepuluh orang oleh tiap tawanan perang pihak musuh. Dasar ajaran Islam sendiri merupakan perintah untuk membaca sebagaimana bunyi ayat pertama yang diturunkan.  Pendidikan Islam pada awal perkembangannya telah memiliki keunggulan karena coraknya yang tersediri yaitu bersifat komprehensif dengan maksud agar anak didik didorong sehingga mampu untuk menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya. Tujuan dalam pendidikan Islam terdiri dari tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Kebijakan baru untuk tujuan keduniaan telah dinampakkan dari upaya menonjolkan keterampilan bekerja dalam rangka pendidikan seumur hidup. Kedua tujuan tersebut hanya dapat dicapai bila sistem pendidikan yang berjalan efektif dan sebanding.

Untuk tujuan tersebut sebenarnya telah diupayakan pendidikan Islam yang memadukan kurikulum umum dan agama seperti yang berlangsung saat ini di tingkat Madrasah Aliyah. Tuntutan masyarakat terhadap madrasah ini dapat dikatakan memadai, artinya jika dijalankan secara efektif maka anak didik di Madrasah Aliyah tersebut dapat bersaing ataupun berkemampuan sama dalam mata pelajaran umum dengan keunggulan pelajaran agama yang memadai. Namun fenomena yang terjadi di tingkat perguruan tinggi, kemampuan atas pengetahuan umum (keduniaan) dan keagamaan ini tidak disahuti secara bijaksana. Hal ini dapat dilihat tidak adanya institusi pendidikan tinggi Islam yang memfasilitasi pendidikan yang mengintegrasikan kedua bidang tersebut. Akhirnya Madrasah Aliyah hanya menghasilkan sumber daya manusia yang di tingkat tinggi dimanfaatkan untuk kembali pada tujuan keduniaan semata, hal ini dapat dimaklumi karena di jenjang yang lebih tinggi tidak diperoleh pendidikan agama yang memadai ataupun integrasi ilmu umum dan agama yang mumpuni.

Ditinjau dari sisi sejarah, para ilmuan muslim adalah orang-orang yang memiliki komitmen terhadap Islam yang tinggi, karena dalam perjalanan keilmuannya, sisi keduniaan dan keagamaan tetap berjalan seiring dan institusi pendidikan tidak memisahkan kedua sisi tersebut. Tokoh-tokoh dan para ilmuan tersebut memiliki dedikasi yang tinggi terhadap keilmuannya di samping fungsinya sebagai ulama dan mereka tidak menjadikan pendidikan keagamaan sebagai ajang mencari nafkah. Pendidikan keagamaan pada awalnya dianggap sebagai kebutuhan mutlak disamping harus mempelajari bidang keduniaan untuk bekal hidup. Hal ini memang merupakan tujuan pendidikan Islam dalam rangka meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia.

Perkembangan sains dan teknologi yang sangat cepat telah mengkondisikan manusia di millennium ketiga untuk mau ataupun tidak harus mengikuti perkembangannya. Sebagai jawaban atas kondisi tersebut, maka pendidikan Islam diajak untuk mampu dalam peningkatan Sumber Daya Manusia khususnya di kalangan muslim yang diharapkan mampu menjadi pioneer dalam pembaruan di Indonesia.

POTRET SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA
Kening saya berkerut secara otomatis ketika membaca buku tentang anatomi tubuh mnusia khususnya bagian otak. Ternyata semua otak manusia berbentuk sama. Apakah dia orang India, Rusia, China, Amerika Serikat ataupun lainnya terutama Indonesia pasti akan mempunyai bentuk dan ukuran yang sama atau tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah bagaimana cara masing – masing orang mengisi otaknya sehingga mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi adalah tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa tingkat SDM seseorang khususnya manusia Indonesia terbentuk oleh warisan ataupun sesuatu yang sifatnya hanya fisikly semata.

Indonesia merupakan Negara yang mempunyai jumlah penduduk yang sangat banyak, bahkan menempati posisi ke-5 di dunia, tetapi jarang penduduk Indonesia yang dapat menyamai prestasi yang sama seperti penduduk di Negara lain. Padahal Negara – Negara yang memilki jumlah penduduk yang banyak di dunia, pasti lebih banyak memiliki penduduk yang SDM nya sudah sangat tinggi misalnya saja tengok China, Rusia, Amerika Serikat serta Negara lainnya mampu mencetak orang – orang yang snagt berjasa di bidang IPTEK maupun ilmu pengetahuan lainnya. Ada apa dengan Indonesia? Inilah lemahnya bangsa Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang benyak tetapi masih kurang kualitas SDM nya.

Hal yang melatar belakangi minimnya kualitas SDM bangsa ini adalah pendidikan, sebab pendidikan bangsa ini kurang begitu mendapat tempat yang sesungguhnya pada posisinya adalah bahwa pendidikan mampu menjadi investasi yang menjanjikan bagi pembentukan SDM yang diharapkan cerdas serta dapat mengharumkan nasib serta nama bangsa yang besar ini. Masih banyaknya bangunan sekolah yang kurang layak tetapi tetap digunakan, peralatan sekolah yang belum lengkap serta masih banyak masalah lainnya. Selain itu banyaknya penduduk miskin bangsa ini yang tidak mampu membiayai anak – anak mereka untuk mengenyam pendidikan lewat bersekolah. Walaupun saat ini sudah ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan Bea Siswa tetap saja tidak dapat  untuk membeli peralatan belajar dan perlengkapan sekolah. Jadi, seharusnya fenomena ini harus wajib menjadi perhatian pemerintah untuk tanggap terhadap masalah pendidikan bangsa ini.

SDM sangatlah penting bagi Negara maju apalagi Negara berkembang seperti Indonesia sebagai upaya pembentukan SDM yang berkualitas tinggi. Hal ini dikarenakan penduduk yang mempunyai kualitas tinggi akan pasti membangun bangsanya untuk menjadi bangsa dan Negara yang maju serta memiliki penduduk yang cerdas serta cakap dalam membangun bangsa dan negaranya. Oleh sebab itu, peningkatan SDM di Indonesia sangatlah perlu ditingkatkan di Indonesia untuk mendapatkan cita – cita bangsa Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, makalah yang ditulis sebagai pemenuhan tugas  mandiri sebagai mana disebutkan di atas tersebut akan dibahas tentang bagaimana potret SDM Indonesia seperti yang sudah kita sebut kemudian juga akan kita bahas bagaimana peran Pendidikan Islam dalam mencetak SDM yang bermutu sesuai dengan tantangan globalisasi saat ini dengan lebih memfokuskan pada bagian akhir makalah ini pada Institusi Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia.






PEMBAHASAN
PENDIDIKAN ISLAM DAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA

A.     Pendidikan Islam dan Karakteristiknya
Tujuan pendidikan selalu dikaitkan dengan kehidupan suatu bangsa, falsafahnya, dasar serta ideoleginya dalam rangka perbaikan individu, keluarga maupun masyarakatnya. Pendidikan merupakan alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka.  Pengertian pendidikan diberikan oleh Yahya Qahar yaitu filsafat yang bergerak di lapangan pendidikan yang mempelajari proses kehidupan dan alternatif proses pendidikan dalam pembentukan watak[1]. Sedangkan M. Natsir menyatakan bahwa ideologi didikan Islam menyatakan, “Yang dinamakan pendidikan Islam ialah suatu pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya[2] . Endang Saifuddin Azhari memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai “proses bimbingan (pimpinan, tuntutan, usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi dan sebagainya) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu, pada waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengakapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam[3].

Pengertian pendidikan yang seperti lazim saat ini dipakai belum terdapat di zaman nabi, tetapi usaha dan kegiatan yang dialkukan oleh Nbai dalam mneyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberikan contoh (uswatun hasanah), melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan social yang mendorong pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu telah mancakup arti pendidikan dalam penertian saat ini. Dengan itu, berarti nabi telah mendidik, membentuk pribadi yaitu pribadi muslim da sekaligus bahwa Nabi SAW adalah seorang pendidik yang berhasil mendidik masyarakat Quraisy dari kajahiliyahannya menuju pembebasan evolusi kesadaran menuju kebenaran. Dengan karakteristik pendidikannya adalah perubahan sikap dan perilaku sesuai dengan petunjuk tujuan islam. Untuk itu perlu adanya usaha, kegiatan, cara, alat dan lingkungan hidup yang menunjang keberhasilannya. Dengan demikian secara umum dapat kita katakana bahwa pendidikan Islam itu adalah pembentukan kepribadian Muslim yang sempurna[4].

Pendidikan Islam dibangun atas prinsip-prinsip pokok yang membentuk karakteristiknya, yaitu :
a.      Penciptaan yang bertujuan, dengan maksud bahwa pendidikan merupakan bentuk ibadah dengan interaksi pada alam, manusia sebagai fokus dan keimanan sebagai tujuan.
b.      Kesatuan yang menyeluruh, yaitu kesatuan perkembangan individu, masyarakat dan dunia serta kesatuan umat manusia sebagai karakteristik universalitas. Ditambah kesatuan pengetahuan yang mencakup berbagai disiplin ilmu dan seni.
c.      Keseimbangan yang kokoh, yaitu keseimbangan antara teori dan penerapan, bagi individu dan masyarakat, serta antara fardhu ‘ain dan fardhu kifayah baik keagamaan maupun keduniaan[5]. 
Pendapat ini diperkuat oleh Zakiyah Darajat yang menyatakan bahwa pendidikan Islam banyak ditujukan pada perbaikan mental yang akan diwujudkan dalam amal perbuatan, baik sendiri maupun orang lain. Di sisi lain pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoretis saja, tetapi juga praktis. Dengan kata lain pendidikan Islam memadukan antara pendidikan iman dan pendidikan amal serta pendidikan individu dan masyarakat (Hasan, 1994 : 166).  Dengan melihat isinya, pendidikan Islam dapat dinyatakan sebagai pendidikan keimanan, ilmiah, amaliah, moral, dan sosial. Semua kriteria tersebut terhimpun dalam firman Allah SWT ketika mensifati kerugian manusia yang menyimpang dari pendidikan Islam baik individu maupun keseluruhan[6].

Tujuan Pendiikan Islam sendiri yaitu seperti yang sudah diungkapkan oleh Zakiyah darajat dalam bukunya pendidikan islam bahwa pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakatnya serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesame makhluk-Nya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semsta ini  untuk kepentingan hidup dunianya kini dan akhiratnya nanti. Tujuan inikelihatannya sangat idelais sekali sehingga sukar untuk merealisasikannya. Akan tetapi selama kita mau berusaha maka diletak itulah Allah akan memberikan jalan keluarnya tentunya dengan kerja keras lewat kerangka – kerangka yang berencana  yang konsepsional mendasar, pencapaian tujuan itu bukanlah hal yang mustahil sebab melihat kembali pengertian pendidikan islam yang terlihat jelas bagaimana membentuk pribai muskim yang sempurna dalam representasi insane kamil yang utuh serta seimbang muatan rohaninya maupun jasmaninya (IQ, EQ maupun SQ) untuk keseimbangan kehidupan duniawi maupun ukhrawi[7].

B.    Sumber Daya Manusia Dalam Islam
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.

Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.

Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka.

Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya, yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya.

Dan sebagaimana yang telah Allah jelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling mulia di antara makhluk yang lain. Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif, ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan mahluk alami”, seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain)[8].

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi, hal ini banyak dicantumkan dalam al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengan kekuatan yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya[9]. Untuk mencapai derajat khalifah di buka bumi ini diperlukan proses yang panjang, dalam Islam upaya tersebut ditandai dengan pendidikan yang dimulai sejak buaian sampai ke liang lahat[10].

Di atas telah disinggung bahwa pendidikan Islam memadukan dua segi kepentingan manusia yaitu keduniaan dan keagamaan. Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya meninjau pada satu aspek saja, yaitu keduniaan saja dan segala bentuk keberhasilan cenderung dinyatakan dengan jumlah materi yuang dimiliki atau jabatan serta pengaruh di tempat individu berada. Akibatnya telah dapat dilihat bahwa kehampaan yang terjadi pada masyarakat Eropah dan Amerika adalah kehampaan spiritual yang sebagai tempat pelariannya ke tempat-tempat hiburan, alcoholism dan bentuk lainnya. Dengan demikian kemajuan pada satu aspek saja dalam kehidupan ini menyebabkan ketimpangan dalam perjalanan hidup manusia yang kemudian akan kembali menjadi permasalahan kemanusiaan khususnya sumber daya manusia.

Menurut Hadawi Nawawi (1994) Sumber daya manusia (SDM) adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga atau kekuatan (energi atau power). Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu : (1) Ciri-ciri pribadi berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan (2) Ciri-ciri interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Sementara Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau juga menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia (Djaafar, 2001 : 2).

T. Zahara Djaafar (2001 : 1) menyatakan bahwa bila kualitas SDM tinggi, yaitu menguasai ilmu dan teknologi dan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya dan merasa bahwa manusia mempunyai hubungan fungsional dengan sistem sosial, nampaknya pembangunan dapat terlaksana dengan baik seperti yang telah negara-negara maju, dalam pembangunan bangsa dan telah berorientasi ke masa depan. Tidak jarang di antara negara-negara maju yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan bangsanya adalah bangsa yang pada mulanya miskin namun memiliki SDM yang berkualitas.

C.    Strategi Aksi Pendidikan Islam Dalam Membentuk Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas[11]
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian dari ajaran Islam, yang dari semula telah mengarah manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari pengembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia itu menjadi makhluk individual yang bertanggung jawab dan makhluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, dan maju, dimana moral kebaikan (kebenaran, keadilan, dan kasih sayang) dapat ditegakkan sehingga kesejahteraan lahir batin dapat merata dinikmati bersama. Pendidikan tentu saja memiliki tujuan utama (akhir). Dan, tujuan utama atau akhir (ultimate aim) pendidikan dalam Islam menurut Hasan Langgulung adalah pembentukan pribadi khalifah bagi anak didik yang memiliki fitrah, roh dan jasmani, kemauan yang bebas, dan akal. Pembentukan pribadi atau karakter sebagai khalifah tentu menuntut kematangan individu, hal ini berarti untuk memenuhi tujuan utama tersebut maka pengembangan sumber daya manusia adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan strategi untuk menggapainya. Karena strategi merupakan alternatif dasar yang dipilih dalam upaya meraih tujuan berdasarkan pertimbangan bahwa alternatif terpilih itu diperkirakan paling optimal

Strategi adalah jantung dari tiap keputusan yang diambil kini dan menyangkut masa depan. Tiap strategi selalu dikaitkan dengan upaya mencapai sesuatu tujuan di masa depan, yang dekat maupun yang jauh. Tanpa tujuan yang ingin diraih, tidak perlu disusun strategi. Selanjutnya, suatu strategi hanya dapat disusun jika terdapat minimal dua pilihan. Tanpa itu, orang cukup menempuh satu-satunya alternatif yang ada dan dapat digali.  Sedangkan Hasan Langgulung dengan definisi yang telah dipersempit berpendapat bahwa strategi memiliki makna sejumlah prinsip dan pikiran yang sepatutnya mengarahkan tindakan sistem-sistem pendidikan di dunia Islam. Menurutnya kata Islam dalam konteks tersebut, memiliki ciri-ciri khas yang tergambar dalam aqidah Islamiyah, maka patutlah strategi pendidikan itu mempunyai corak Islam. Adapun strategi pendidikan yang dipilih oleh Langgulung terdiri dari dua model, yaitu strategi pendidikan yang bersifat makro dan strategi pendidikan yang bersifat mikro[12].

D.    Sumber Daya Manusia Indonesia Dalam Potret Islam
Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia. Namun upaya kearah penyeimbangan pembangunan kedua potensi tersebut selama 32 tahun masa orde baru hanya dalam bentuk konsep saja tanpa upaya aplikasi yang sebenarnya. Telah dimaklumi bahwa pendidikan Islam memandang tinggi masalah SDM ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak (sikap, pribadi, etika dan moral).

Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku, aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek kesehatan dan sebagainya (Djaafar, 2001 : 2). Kesemua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorong dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri, hal ini dapat diambil contoh seperti kepatuhan masyarakat terhadap hukum ditentukan oleh aspek ruhaniyah ini. Dalam hal ini pendidikan Islam memiliki peran utama untuk mewujudkannya.

Tantangan manusia pada millennium ke-3 ini akan terfokus pada berbagai aspek kompleks. Khusus dibidang pendidikan Aly dan Munzier (2001 : 227) menyebutkan bahwa tantangan pendidikan Islam terbagi atas 2, yaitu tantangan dari luar (eksternal), yaitu berupa pertentangan dengan kebudayaan Barat abad ke-20 dan dari dalam (internal) Islam itu sendiri, berupa kejumudan produktivitas keislaman[13].

Faktor Eksternal
Factor eksternal yang patut diwaspadai dalam mensikapi SDM Indonesia adalah globalisasi (perdagangan pasar bebas). Perdagangan pasar bebas bukanlah gossip atau rumor yang kehadirannya sudah jelas kita ketahui bersama kemarin ketika tahun baru dating 01 januari 2010 menjadi tanggal bersejarah beraninya bangsa ini membuka FTA (Free Trade Area) Asena dengan China. Globalisasi adalah pendatang baru yang sudah membeli tiket yang akan datang dan menetap di negeri ini dengan jangka waktu yang sangat lama. Banyak sekali masalah yang kemudian kita hadapi dengan globlisasi yang kini mnjedi momok menakutkan terhadap penumbuhan kualitas SDM bangsa ini apalagi SDM bangsa ini sebenarnya belum siap menghadapi FTA ditambah adanya kesan seperti sangat dipaksakan entah karena gengsi atau apalah namanya bangsa ini ikut serta dalam menyetujui FTA Asean dengan China.

Faktor Internal
Kejumudan produktivitas keislaman yang pada kenyataan kali ini ummat islam banyak terkotak – kotakan dalam nuansa keasyikan bermadzhab sampai ke titik fanatis sehingga mnyalahkan madzhab yang lain yang nota benenya masih sesame islam sehingga muncul banyakperdebatan – perdebatan sis – sia yang hanya menyumbat tingkat peningkatan kualitas pendidikan sebagai investasi pembentukn sumber daya manusia ummat islam sehingga menyumbat pula tingkat produktivitas keislaman akibat kejumudan pemikiran serta taklid buta terhadap fanatisme kemadzhaban.

Abdul Rachman Shaleh (2000 : 203) menyatakan bahwa untuk menjawab tantangan dan menghadapi tuntutan pembangunan pada era globalisasi diisyaratkan dan diperlukan kesiapan dan lahirnya masyarakat modern Indonesia. Aspek yang spektakuler dalam masyarakat modern adalah penggantian teknik produksi dari cara tradisional ke cara modern yang ditampung dalam pengertian revolusi industri. Secara keliru sering dikira bahwa modernisasi hanyalah aspek industri dan teknologi saja. Padahal secara umum dapat dikatakan bahwa modernisasi masyarakat adalah penerapan pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas dan semua aspek hidup masyarakat.

Dalam upaya pembangunan masyarakat, tidak ada suatu masyarakat yang bisa ditiru begitu saja, tanpa nilai atau bebas nilai. Hal ini telah terlihat dengan peniruan dan pengambilan pola kehidupan sosialis, materialistis yang ditiru masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu pembangunan di bidang agama. A. R. Saleh (2000 : 205) menyatakan bahwa pembangunan di bidang agama diarahkan agar semakin tertata kehidupan beragama yang harmonis, semarak dan mendalam, serta ditujukan pada peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, teciptanya kemantapan kerukunan beragama, bermasyarakat dan berkualitas dlam meningkatkan kesadaran dan peran serta akan tanggung jawab terhadap perkembangan akhlak serta untuk secara bersama-sama memperkukuh kesadaran spiritual, moral dan etik bangsa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, peningkatan pelayanan, sarana dan prasarana kehidupan beragama. Masyarakat yang sedang membangun adalah masyarakat yang sedang berubah dan terkadang perubahan tersebut sangat mendasar dan mengejutkan. Masyarakat yang sedang dibangun berarti masyarakat terbuka, yang memberi peluang untuk masuknya modal, ilmu dan teknologi serta nilai dan moral asing yang terkadang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Untuk itu peran agama diharapkan dapat berfungsi sebagai pengarah dan pengamanan pembangunan nasional. Dalam masyarakat yang sedang berubah ini terdapat objek paling rawan yaitu generasi muda, untuk itu prioritas perhatian pada generasi muda ini perlu ditingkatkan demi keberhasilan pembangunan. Peningkatan kualitas manusia hanya dapat dilakukan dengan perbaikan pendidikan. A. R. Saleh (2000 : 205) menyatakan ada beberapa ciri masyarakat atau manusia yang berkualitas, yaitu :
a.      Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia dan berkepribadian
b.      Berdisiplin, bekerja keras, tangguh dan bertanggung jawab
c.      Mandiri, cerdas dan terampil
d.      Sehat jasmani dan rohani
e.      Cinta tanah air, tebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial

E.      Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Islam Indonesia
Generasi yang berkualitas yang akan disiapkan untuk menyongsong dan menjadi pelaku pembangunan pada era globalisasi dituntut untuk meningkatkan kualitas keberagamaannya (dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan agama yang tetap bertumpu pada iman dan aqidah). Dengan kata lain masyarakat maju Indonesia menuntut kemajuan kualitas hasil pendidikan Islam. A. R. Saleh menyatakan bahwa modernisasi bagi bangsa Indonesia adalah penerapan ilmu pengetahuan dalam aktivitas pendidikan Islam secara sistematis dan berlanjut. Tujuan pendidikan nasional termasuk tujuan pendidikan agama adalah mendidik anak untuk menjadi anak manusia berkualitas dalam ukuran dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang berkualitas, ditetapkan langkah-langkah dalam pembinaan pendidikan agama yaitu :
1.      Meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan perguruan agama dengan perguruan umum dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sehingga perguruan agama berperan aktif bagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.      Pendidikan agama pada perguruan umum dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi akan lebih dimantapkan agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME serta pendidikan agama berperan aktif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.      Pendidikan tinggi agama serta lembaga yang menghasilkan tenaga ilmuan dan ahli dibidang agama akan lebih dikembangkan agar lebih berperan dalam pengembangan pikiran-pikiran ilmiah dalam rangka memahami dan menghayati serta mampu menterjemahkan ajaran-ajaran agama sesuai dan selaras dengan kehidupan masyarakat (A. R. Saleh, 2000 : 206).

Berdasarkan upaya diatas, maka dapat dilihat bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama pada 2 jalur, yaitu lembaga pendidikan umum dan keagamaan. Sejalan dengan upaya peningkatan SDM ini H. A. R. Tilaar (1999 : 200-204) dalam memandang tuntutan SDM yang kompetitif di abad 21 sesuai tantangan atau tuntutan masyarakat dalam era ilmu pengetahuan, menyatakan bahwa perlunya :
a)           Reformulsi IAIN sebagai Institusi Pendidikan Tinggi Islam, hal ini dilihat dari relevansinya terhadap tuntutan ilmu pengetahuan dan pembangunan nasional masih bersifat sektoral dan visinya yang terbatas
b)           Nilai Agama Sebagai Faktor Integratif, telah terlihat efek pemisahan agama dan sains-teknologi, nilai agama hendaknya dijadikan faktor integratif di dalam mengembangkan fakultas-fakultas ilmu murni bila transformasi IAIN menjadi Universitas Islam dapat diwujudkan.
c)            Peninjauan Eksistensi Fakultas Tarbiyah dalam IAIN dan menyarankan agar ditransformasikan menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan[14].

















PENUTUP
K E S I M P U L A N

Sertelah kita ketahui bersama secara panjang lebar dalam banyaknya pembahasan panjang lebar tersebut di atas, dalam menciptakan SDM yang bermutu sesuai tantangan globalisasi saat ini Pendidikan Islam memainkan peranan penting dalam pembinaan SDM khususnya kepribadian, sikap dan mental manusia berlandaskan agama selain potensi intelektualitasnya. 

Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan proses bimbingan yang dibangun atas prinsip-prinsip pokok, berupa penciptaan yang bertujuan, kesatuan yang menyeluruh dan keseimbangan yang kokoh. Pendidikan Islam memandang perlunya aspek dunia dan akhirat, ilmu dan amal atau teori dan praktek. 

Pendidikan Islam berperan dalam memecahkan permasalahan SDM jika didukung perguruan tinggi Islam yang mampu menyahuti aspirasi tamatan institusi pendidikan Islam di tingkat bawah, selanjutnya mempersiapkan SDM untuk diterjunkan kembali pada masyarakat.

Dalam hal ini juga dapat kita sedikit usulkan beberapa hal antara lain yaitu Pendidikan Islam sebaiknya memainkan peran sejak awal dan tingkat dasar dalam upaya peningkatan SDM, baik jasmaniah dan rohaniah. Pendidikan tinggi Islam juga agar secepatnya melakukan terobosan baru demi menyikapi hal-hal yang berkembang cepat demi menghasilkan SDM yang berkualitas dalam aspek keduniaan dan keakhiratan.









DAFTAR PUSTAKA
Aly,H.N. dan Munzier,H. (2000). Watak Pendidikan Islam. Jakarta:Friska Agung Insani.

Azra,Azyumardi. (2001). Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta:Kalimah.

Hasan,Chalijah. (1994). Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya:Al Ikhlas.

Prasetya. (2000). Filsafat Pendidikan : Untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung:Pustaka Setia.

Shaleh,A.R. (2000). Pendidikan Agama dan Keagamaan : Visi, Misi dan Aksi. Jakarta:Gemawindu Pancaperkasa.

Tilaar,H.A.R. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang:Tera Indonesia.

Djaafar,T.Z. (2001). Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan. Padang:Penerbit FIP UNP

Darajat,Zakiyah. (1992). Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara:Jakarta.



[1] Filsafat Pendidikan [Prasetya : 2000] Pustaka Setia Bandung
[2] Pendidikan Islam : Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium Baru [Azyumardi Azra : 2001] Kalimah Jakarta
[3] Ibid
[4] Ilmu Pendidikan Islam [Zakiyah Darajat : 1992] Bumi Aksara Jakarta
[5] Watak Pendidikan Islam [Aly dan Munzier : 2000 hak 55-68] Friska Agung Insani Jakarta
[6] Konsep Iman, Ilmu dan Amal [Q.S. Al - 'Ashr 1 - 4]
[7] ESQ [Ary Ginandjar : 2008]
[8]  Hakikat Manusia Dalam islam [Makalah Pendidikan Islam : ITS Suranaya]
[9]  QS. Al Baqoroh : 29 - 32
[10] HR.Ibn Abd Barr [utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi]
[11] Skripsi Strategi Pendidikan Islam Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia [Studi atas Pemikiran Hasan Langgulung]
     Oleh : Syukri Rifa’I Mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[12] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma.arif,1995), h. 67
[13] http://faizhijauhitam.blogsot.com
[14] Potret Pendidikan Tinggi Islam Indonesia : Jurnal Mahasiswa Islam Indonesia//Ed.XIV 2006

1 komentar: